Manajeman PT KAI Commuter Duduk Bersama dengan Korwil Petugas Lapangan Stasiun
Manajeman PT KAI Commuter Duduk Bersama dengan Korwil Petugas Lapangan Stasiun
Membahas Free Rider dan Peningkatan Pelayanan KA Commuter
Keluhan yang diterima oleh Commuter Care Center (C-Care) setiap harinya hampir sebagian besar akibat lemahnya pelayanan para petugas di lapangan, baik di stasiun maupun di atas KA. Ini membuat Manajeman PT KAI Commuter memanggil dan duduk bersama dengan para Korwil (koordinator wilayah) dan komandan regu (Danru) Petugas Lapangan Stasiun dan KA untuk menuntaskan berbagai masalah yang dikeluhkan oleh penumpang. Pertemuan ini berlangsung di kantor PT KAI Commuter Jabodetabek di gedung Jakarta Railway Center (JRC), Rabu (17/6).
Kepada para Korwil dan Danru, Kurniadi Atmosasmito, Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek menginstruksikan agar pembinaan dan pengawasan atas kinerja petugas lapangan yang terdiri dari petugas portir, petugas loket, petugas pengamanan stasiun (PAMSUS), petugas announcer dan petugas pemeriksa tiket ditingkatkan.
Kurniadi meminta para Korwil untuk mengidentifikasi kerusakan-kerusakan yang terdapat di stasiun. ”Awasi dan laporkan kepada kami tembok-tembok stasiun yang bolong yang memungkinkan free rider masuk stasiun tanpa memiliki tiket. Kami akan memperbaiki fasilitas tersebut,” kata Kurniadi. Kurniadi menambahkan fasilitas stasiun yang rusak yang menyebabkan pendapatan stasiun berkurang akan diperbaiki secara bertahap. ”Tapi para Korwil dan Danru bertanggung jawab dalam menjaga dan memeliharanya,” tegas Kurniadi. Kurniadi juga mengingatkan, di stasiun-stasiun akan dipasangi pesawat CCTV sehingga kinerja petugas stasiun dapat diawasi dan diketahui oleh manajemen.
Subagijo, Direktur Teknik PT KAI Commuter Jabodetabek, menambahkan sebagai tahap awal perbaikan pelayanan PT KAI Commuter Jabodetabek adalah mensterilisasi stasiun, untuk itu fasilitas stasiun perlu diperbaiki. ”Kedepannya, di seluruh stasiun yang dilalui KA Commuter akan di pasang gate tiket elektronik. Jadi pengamanannya harus lebih ketat sehingga free rider berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali,” kata Subagijo.
Inti dari masalah yang dibahas dalam acara ini adalah pelayanan. “Dengan pelayanan prima dan kinerja petugas lapangan baik, bukan tidak mungkin target pendapatan yang dicanangkan PT KAI akan tercapai”, tutur Bey S. Arief, Kepala Seksi Angkutan Penumpang PT KAI Commuter Jabodetabek yang ikut menghadiri acara pembekalan tersebut.
Dalam acara pembekalan yang digagas Makmur Syaheran, Corporate Secretary PT KAI Commuter Jabodetabek ini, berbagai keluhan penumpang seperti petugas tidak ramah dan bersikap kasar kepada penumpang, petugas kurang informatif, petugas tidak memberikan uang susuk kepada penumpang yang membeli tiket, banyak copet dan jambret, dan keluhan-keluhan lain dibahas tuntas dan coba dicari solusinya.
Manajemen PT KAI Commuter Jabodetabek menyadari bahwa tingginya jumlah penumpang, di sisi lain jumlah sarana KA Commuter tidak seluruhnya dapat beroperasi dengan baik, sehingga banyak perjalanan KA Commuter yang seharusnya dilayani 8 gerbong terpaksa hanya dilayani dengan 4 gerbong, telah membawa dampak berupa keluhan penumpang tinggi, dan tidak jarang yang bersikap kasar kepada petugas. Oleh karena itu petugas lapangan perlu mendapatkan pembinaan dan pembekalan yang baik sehingga sindrome ”burn out”nya bisa dihilangkan atau diatasi. Seletih apa pun si petugas, sejenuh apa pun si petugas, pelanggan tetap harus dilayani dengan baik.
”Saat ini yang paling diprioritaskan adalah penumpang,” tutur Bey. ”Bagaimana penumpang bisa nyaman baik di stasiun maupun selama di perjalanan,” tambah Bey.
Harapan terbesar setelah acara duduk bersama ini adalah dicapainya sebuah solusi yang menjadikan Commuter sebagai moda transportasi massal terbaik di Jabodetabek. (C-Care)
