Optimalkan Kereta Api

Suara Pembaruan, halaman 1 & 5, Senin, 28 Mei 2012

Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat harus lebih memprioritaskan pembangunan transportasi umum massal berbasis rel yakni kereta Jabodetabek yang dibangun sejak zaman Belanda serta mass rapid transit (MRT). Angkutan massal berbasis rel merupakan jawaban ampuh untuk mengurangi kemacetan Jakarta karena daya angkutnya sangat besar dan tidak memakan ruang jalan raya, murah, dan irit bahan bakar, serta paling ramah lingkungan di banding angkutan umum lain.

Karena itu, perlu perhatian pada peningkatan layanan kereta yakni dengan penambahan jaringan dan gerbong kereta dan pembenahan sistem pengaturan lalu lintas kereta. Penambahan jaringan dan gerbong memungkinkan rute Barat-Timur dari Tangerang ke Bekasi ke dan Utara- Selatan dari kota ke Depok dan Bogor serta melingkar di Jakarta terhubung. Kereta yang selama ini hanya mengangkut 440.000 penumpang per hari diharapkan akan dapat mengakut sekitar 1,2 juta penumpang per hari.

Penambahan jaringan rel dan gerbong membuat pelayanan headway (jarak kedatangan antarkereta) makin singkat dan penumpang bisa menggunakan tiket terusan tanpa harus berpindah moda angkutan lain atau keluar stasiun untuk mencapai tujuan. Stasiun kereta terintegrasi dengan terminal bus dalam kota, atau halte busway, stasiun MRT, dan bahkan pelabuhan serta bandara. Sementara itu, untuk mengurangi titik penumpukan kendaraan di persimpangan kereta maka dibangun fly over atau underpass.

Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menjelaskan, untuk dapat mencapai target 1,2 juta penumpang maka frekuensi perjalanan KRL harus ditambah agar jeda antarkereta kurang dari 10 menit.

“Untuk itu perlu dilakukan penghapusan perlintasan sebidang dan penambahan gerbong serta jaringan rel, khususnya untuk lingkar luar Jakarta. Sedangkan untuk lingkar dalam kota belum bisa maksimal karena ada beberapa lokasi perlu penambahan stasiun atau halte," kata Djoko, Minggu (27/5).

Menurut Djoko, hingga kini masih ada kesalahan pemberian subsidi pemerintah pusat, terutama pemberian subsidi konsumsi BBM. Subsidi tidak digunakan untuk merevitalisasi transportasi umum, baik kereta api maupun bus. Padahal, untuk merevitalisasi angkutan massal KA, hanya diperlukan dana sekitar Rp 19 triliun. Sementara untuk tahun 2012, untuk membayar bunga obligasi yang merupakan bagian subsidi konsumsi BBM, pemerintah mengucurkan Rp 60 triliun.
"Sepertinya, pemerintah tidak serius memberikan subsidi untuk transportasi umum," ucap Djoko. Senada dengan Djoko, pengamat transportasi, Azas Tigor Nainggolan meminta pemerintah fokus mengembangkan sistem perkeretapian untuk mengurangi kemacetan di Ibukota. Selama ini, kata dia, internal manajemen KA cenderung pasif dalam mengelola KA terutama Jabodetabek.

Terkunci

Lalu lintas Jakarta diperkirakan akan terkunci (grid lock) pada 2014. Mobil yang keluar dari garasi rumah langsung dihadang deretan mobil lainnya di jalan-jalan kompleks permukiman. Sebelumnya, lalu lintas yang terkunci diprediksi baru terjadi pada 2015. Namun, penambahan mobil dan motor yang menggila, tanpa diikuti penambahan ruas jalan secara signifikan, membuat stagnasi lalu lintas Jakarta bakal terjadi lebih cepat.

Setidaknya ada dua persoalan besar terkait kemacetan Jakarta. Pertama, penambahan mobil dan motor yang tak sebanding dengan daya tampung jalan raya. Kedua, minimnya angkutan umum massal (AUM) yang aman, nyaman, tepat waktu, dan terjangkau.

Kedua persoalan itu sebetulnya mulai coba dipecahkan oleh Sutiyoso yang selama dua periode menjabat gubernur DKI Jakarta (1997 sampai 2007). Awalnya, melalui pembatasan mobil yang masuk ke beberapa jalan utama Ibukota pada jam-jam sibuk di pagi dan sore hari, seperti Sudirman, Thamrin, dan Gatot Subroto, melalui program three in one.

Sayangnya, program ini bisa disiasati dengan kehadiran joki dan belum ditunjang pembatasan kendaraan di ruas jalan yang lain, sehingga kemacetan tetap saja terjadi di ruas-ruas jalan lain. Kebijakan three in one dinilai kurang efektif, sehingga belakangan muncul konsep jalan berbayar (electronic road pricing/ERP) untuk menggantikannya. Konsep ini masih dikaji dan belum diterapkan dalam waktu dekat.

Sejalan dengan itu, Sutiyoso menggagas jalur busway yang dilayani bus Transjakarta. Pembangunan AUM ini mulai sedikit mengalihkan pengguna mobil. Dari target 15 koridor busway, Sutiyoso berhasil membangun 10 koridor, sedangkan penggantinya, Fauzi Bowo hanya menambah satu koridor. Selain itu, pada masanya telah dibangun tiang pancang monorel. Tetapi tiang-tiang beton itu mangkrak karena tak ada kontinuitas kebijakan transportasi.

Langkah tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 84 Tahun 2004 tentang Penetapan Pola Transportasi Makro (PTM) di Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan konsep pengintegrasian empat moda transportasi, yakni busway, monorel, mass rapid transit (MRT), dan angkutan sungai. Khusus angkutan sungai, rasanya sulit diwujudkan mengingat sungaisungai Jakarta yang bergantung pada air kiriman dari Bogor dan hujan.

PTM Plus

PTM merupakan pijakan bagi pembangunan transportasi Jakarta untuk mengatasi kemacetan yang semakin menggila. Sayangnya, kebijakan tersebut belum dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan.

Namun, PTM saja belum cukup menjawab kebutuhan AUM Jakarta. Masih ada satu solusi yang selama ini kurang mendapat perhatian, yakni pembangunan jaringan rel untuk kereta rel listrik (KRL). PTM yang memberi perhatian lebih pada jaringan rel dan KRL dapat disebut sebagai “PTM Plus”. Mengapa diperlukan revitalisasi jaringan rel dan KRL?

Dengan 20,7 juta perjalanan di Jabodetabek, pada 2011 terdiri dari 18,7 juta di Jakarta, ditambah 850.000 dari Tangerang, 600.000 dari Depok dan Bogor, serta 550.000 dari Bekasi, yang cenderung meningkat di masa mendatang, terutama dari Bodetabek, membuat KRL dapat menjadi moda yang bisa diandalkan. Kalau Transjakarta hanya bisa mengangkut maksimal 100 penumpang dalam sekali perjalanan, KRL sanggup membawa 1.500 penumpang. Bila dibandingkan dengan MRT, investasi KRL bisa dihemat 30 persen sampai 50 persen.

Rencana pemerintah mengoperasikan KRL dari Stasiun Manggarai menuju Bandara Soekarno-Hatta merupakan langkah awal merevitalisasi jaringan rel di Jabodetabek. Kebijakan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) menghidupkan jalur lingkar dalam kota Jakarta, mulai dari Stasiun Manggarai hingga Stasiun Jakarta Kota, ikut memberi kontribusi positif. Bukan tidak mungkin, jaringan rel lingkar dalam kota terus dihidupkan dengan mengaktifkan Stasiun Tanjung Priok. Rencana pembangunan double-double track Manggarai-Bekasi, serta double track Tanah Abang-Serpong-Maja, sebaiknya direalisasikan dalam waktu dekat. Selain itu, ke depan perlu dipikirkan pembangunan jaringan rel KRL yang menghubungkan Tangerang-Bogor-Bekasi. Dengan demikian, warga Bodetabek tak harus ke Jakarta bila ingin bepergian ke daerah penyangga Ibukota. Sejalan dengan itu, penambahan gerbong KRL yang disertai peningkatan pelayanan bagi penglaju (commuter) dari Bogor, Depok, Bekasi, Serpong, dan Tangerang, diharapkan mampu mendongkrak jumlah penumpang, sekaligus menekan jumlah mobil yang masuk ke Jakarta.

Bila saat ini penumpang KRL Jabodetabek baru mencapai 400.000 orang per hari dan ditargetkan 1,2 juta pada 2019, melalui revitalisasi jaringan rel dan peningkatan pelayanan, bukan tidak mungkin target 1,2 juta penumpang tercapai pada 2015 dan pada 2019 bisa menembus 5 juta penumpang!

Penambahan gerbong kereta sudah menjadi program PT KAI. Menurut Sekertaris Perusahaan PT KA Commuter Jabodetabek, Makmur Syaheran, selama tiga tahun ke depan pihaknya terus mendatangkan kereta tambahan sebanyak 160 unit per tahun. Sedangkan untuk tahun keempat hingga 2019, akan didatangkan kereta sebanyak 150 unit per tahun. Upaya tersebut untuk mengejar kebutuhan 1.440 kereta.

Dengan tambahan kereta, setiap rangkaian yang dioperasikan nantinya akan membawa sedikitnya 10 gerbong. Dengan demikian daya angkut kereta dapat lebih maksimal sehingga target 1,2 juta penumpang perhari dapat tercapai.. Selama ini PT KCJ masih menerapkan membawa delapan gerbong dalam satu rangkaian.

Vice President Public Relations PT KAI, Sugeng Priyono, mengungkapkan, dalam melakukan penambahan sarana KRL, pihaknya sengaja mengambil eks kereta dari Jepang atau dalam artian tidak mengambil dari PT INKA. Beberapa faktor seperti memiliki efisiensi dari segi harga, mendatangkan kereta eks Jepang juga dinilai masih memiliki kelayakan dan lebih cepat dalam prosesnya.

Jaringan

Deputi Gubernur DKI bidang Transportasi Soetanto Soehodho menyebutkan, ada tiga hal yang harus menjadi perhatian manajemen PT KA. Pertama, peningkatan pelayanan kereta agar lebih menyebar dan tidak hanya dititikberatkan pada jalur yang ada sekarang.

Kedua, meningkatkan konektivitas dengan menyediakan angkutan-angkutan lanjutan. Ketiga, stasiun KA harus menjadi titik yang menarik. Stasiun itu tidak hanya sebagai tempat naik dan menurunkan penumpang namun sebaliknya menjadi tempat aktivitas.

Menurut Sugeng, khusus penambahan jaringan rel untuk lingkar dalam kota Jakarta, dalam waktu dekat tidak mungkin dilaksanakan. Untuk itu, PT KAI tetap akan berusaha memaksimalkan jaringan yang sudah ada dan merencanakan double track KA. "Penambahan jaringan untuk jalur lingkar dalam kota tidak akan dilakukan kecuali rencana jalur KA bandara yang hingga kini masih dalam tahap studi," kata Sugeng.

Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana meningkatkan konektivitas KRL dengan moda transportasi lainnya seperti busway, subway, MRT seperti yang sudah dilakukan dan dikembangkan pada Stasiun Djuanda, Jakarta Pusat. "PT KAI sangat berharap setiap stasiun kereta Jabodetabek ada konektivitas dengan operator moda angkutan lain," ujar Sugeng.

Secara terpisah, juru bicara Kementerian Perhubungan Bambang Ervan menyatakan, pemerintah belum berencana membangun rel untuk menambah jalur lintasan kereta api.

“Fokus kita masih mengaktifkan beberapa rel yang tadinya tidak beroperasi Seperti Tanjung Priok yang dulu sudah mati sekarang aktif lagi. Lintasan yang seperti ini ada beberapa dan kita akan hidupkan kembali. Kalau untuk pembangunan baru fokusnya pada MRT,” ujar Bambang.