Realisasikan Jaringan Rel Lingkar Luar Jakarta

Suara Pembaruan, halaman 1 & 5, Jumat, 1 Juni 2012

Jaringan rel lingkar luar Jakarta yang menghubungkan Tangerang, Depok, Bekasi hingga pelabuhan Tanjung Priok sudah dirancang sejak 1990.

Jalur tersebut akan menjadi akses yang sangat penting untuk pergerakan manusia dan barang serta mengurangi kepadatan jalan raya yang muaranya menjadi solusi mengatasi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya. Karena itu, jaringan rel lingkar luar seharusnya menjadi prioritas pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan infrastruktur transportasi.

"Saya kira pembangunan jaringan rel di lingkar luar Jakarta harus segera direalisasikan. Ini juga untuk mengurangi beban lalu lintas terutama angkutan barang," ujar Deputi Gubernur DKI bidang Transportasi Soetanto Soehodho kepada SP di Jakarta, Kamis (31/5).

Sedangkan Pakar Transportasi dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Daniel Rosyid mengatakan, pembangunan sistem transportasi berbasis rel jauh lebih murah bila dibanding membangun jalan raya.

Demikian juga dalam pengoperasiannya. “Ini bergantung pada keseriusan pemerintah. Pemerintah pusat harus berperan aktif dalam membangun dan mengintegrasikan sistem transportasi di Jabodetabek. Termasuk membangun rel di Bogor-Bekasi dan Tangerang, karena berada di dua provinsi berbeda,” katanya.

Menurut Soetanto, kereta lingkar luar yang menghubungkan Tangerang, Depok, Bekasi hingga pelabuhan Tanjung Priok merupakan akses penting. Jalurnya menyerupai tol lingkar luar (Jakarta Outer Ring Road/ JORR). Dengan demikian, akan ada alternatif angkutan selain angkutan jalan raya.

Jalur lingkar luar tersebut, sebagai contoh, dari stasiun Tanjung Barat, Jaksel, memecah ke arah barat langsung ke Pondok Indah (Jaksel), Duri Kosambi (Jakbar), atau Serpong dan Tangerang.

Demikian sebaliknya. Sedangkan dari stasiun Tanjung Barat ke arah timur memungkinkan jalur menuju Kampung Rambutan (Jaktim) lalu ke Bekasi.

Soetanto menyarankan, pemerintah membangun rel layang karena biayanya hampir sama dengan membangun underpass atau fly over. Jalur rel biasa akan memakan banyak biaya karena perlu pembebasan tanah. “Untuk rel layang sekitar Rp 100 miliar per kilometer. Jadi, jauh lebih efektif membangun rel layang ketimbang bikin underpass maupun fly over," ucapnya.

Selama ini, panjang tol lingkar luar Jakarta yang menghubungkan Penjaringan, Kebon Jeruk, Ulujami, Pondok Pinang, Taman Mini, Jatiwarna, Cakung, Cilincing, hingga Tanjung Priok sekitar 70 km. Dengan berpatokan panjang jalur rel lingkar luar sama dengan JORR, maka biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 7 triliun.

Rencanan jalur lingkar luar ini tak terealisasi sampai saat ini karena kendala anggaran. Menurut Soehodo, bila pemerintah pusat tidak mampu merealisasikan jaringan rel lingkar luar, sebaiknya proyek ini diberikan ke swasta. Ditambahkan, dalam UU Perkeretaapian, peran swasta dan pemerintah daerah dalam membantu pembangunan jaringan rel sudah jelas. Hanya saja, pemerintah daerah terkendala oleh keterbatasan anggaran.

Pakar transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ofyar Z Tamin yang dihubungi terpisah, mengatakan, jaringan rel KA Bogor-Tangerang-Bekasi peran PT KAI sangat sentral dalam mengembangkan jaringan rel di pinggir Jakarta tersebut.

Ia menekankan, sistem transportasi antarmoda harus dipadukan untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Jaringan angkutan massal harus terintegrasi satu sama lain. Pemerintah sebaiknya membentuk otoritas transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Cianjur (Jabodetabekjur). Otoritas transportasi ini harus independen dan diisi oleh orang-orang yang kredibel yang berasal dari kalangan pemerintah, akademisi, maupun masyarakat umum.